Senin, 16 September 2019

Anak Rantau dari Desa






Assalamualaikum  Wr. Wb.

     Namaku Cahya Heru Saputra. Aku lahir di Sanggau, 15 Februari 2001. Kedua orang tua ku transmigrasi dari Jawa. Jadi Aku orang Kalimantan keturunan Jawa, hehe.  Aku anak kedua dari tiga bersaudara.
Aku berasal dari Desa Tri Mulya, Kecamatan Mukok, Kabupaten Sanggau. Riwayat sekolah ku , yaitu PAUD Hidayatullah, SDN 14 Trimulya, SMPN 2 Mukok, dan SMAN 3 Sanggau. Sewaktu kecil Aku dipanggil atong oleh beberapa orang  gara-gara Aku gendut.

      Mungkin desaku tidak jauh berbeda dengan di desa kalian. Tapi desaku memiliki keunikan tersendiri. Apa itu? Baca sampai habis ya.Sewaktu Aku kecil desaku sama seperti desa layaknya sinetron di TV. Hutan masih terjaga, sawah-sawah yang terhampar indah. Norma-norma masih berjalan dengan baik. Oiya, di tempat tinggal ku kebanyakan orang transmigrasi dari Jawa. Jadi kanan, kiri, belakang,dan depan orang Jawa semuanya. Namun, itu tidak membuat Kami untuk tidak bersosialisasi dengan orang asli Kalimantan. Tidak jauh dari rumahku terdapat pemukiman orang Dayak Non muslim. Kami sangat rukun dan saling toleransi. Waktu itu kami orang Juga pernah ikut partisipasi dengan acara mereka yaitu Gawai Dayak. Memasak nasi lemang khas orang Dayak. Jangan diragukan lagi rasanya. Alhamdulillah selama Aku tinggal disana tidak ada kasus rasis. Intinya di desa Kami masih menjunjung rasa kekeluargaan.


  Salah satu mata pencaharian di desaku
     
   
    Desaku tidak memiliki sungai, jadi tak sedikit anak-anak di desa Kami tidak pandai berenang. Kalaupun Kami ingin belajar berenang, Kami harus pergi ke desa tetangga, hehe. Aku belajar naik motor waktu kelas 3 SD. Sungguh prestasi yang entah membanggakan atau tidak, hahah. Tak bias dihitung pakai jari berpa kali sudah Aku terjatuh. Sekedar informasi Aku termasuk murid yang berprestasi. Aku selalu masuk tiga besar waktu SD namun di kelas 5 semester 2 aku peringkat 4. Nangis, takut dimarah, takut mengecewakan, haha. Semenjak itu Aku mengurangi bermain ps2. Untuk kalian yang seumuran dengan ku pasti tahu bagaimana seru nya bermain gta, downhill + cheatnya, namatin misi naruto, dan miring miring ngga jelas saat bermain motogp. Alhamdulillah SMP Aku masuk tiga besar, namun aku kalah saing nilai ujian.

      Setelah lulus SMP, Aku melanjutkan SMA di kota. Disinilah bagian serunya tentang kampungku.
Perjuangan SMA Ku tidak semudah SMP. Kami sebagai Anak dari desa yang merantau ke kota benar-benar kurang pengalaman. Efek kurang meleknya teknologi, sinyal masih susah membuat Kami jadi orang sepok. Di desaku ada dua momen yang selalu terjadi seiap tahun. Ketika hujan jalan becek, ketika kemarau jalan berdebu. Kami yang sekolah SMA di kota setiap hari sabtu pulang ke desa. Kalo Aku biasanya dua minggu sekali. Memang sangat menyedihkan pulang ketika musim hujan. Apalagi jika Kamu pulang sendirian. Kecuali Aku yang sudah pro, haha.  

     Kondisi jalan Ketika musim hujan.


      Waktu tempuh dari rumahku sampai ke kota kurang lebih 1- 2 jam. Itu kalau menggunakan motor dan jalan normal. Beda hal jika pergi atau pulang saat musim hujan dan jalan hancur. Bisa sampai 3-4 jam di jalan. Bahkan didesaku pernah banjir sampai selutut orang dewasa. Jadi pulkam harus ditunda dulu. Mirisnya Kami anak kos ketika musim hujan tiba adalah uang sudah habis, kartu atm tidak ada, mau pulang tidak memungkinkan. Disitulah Kami bersatu dengan anak kos lainnya, haha.

    Untuk di desaku tidak ada tempat rekreasi atau tempat untuk refreshing. Tapi kalau di Kota nya terdapat tempat wisata Pancur Aji, Kampung Sentana dan taman Sabang Merah. Biasa ketika musim kemarau berkepanjangan tiba, sungai Kapuas surut. Hingga pasir timbul. Tak sedikit warga yang menikmati tempat itu untuk berfoto, bermain bola dan lainnya.

    Salah satu riam yang ada di Sanggau. 

Mungkin ini saja cerita kampung halamanku. Semoga menikmati dan terhibur. Salam hangat.